Karawang – Masyarakat Anti Pungli Indonesia (MAPI) menggelar kegiatan buka puasa bersama sebagai momentum memperkuat nilai kejujuran, pengendalian diri, serta komitmen membangun masyarakat yang bersih dari praktik korupsi dan pungutan liar. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat (6/3/2026) di Perum P&K Blok E No.12 Jatirasa Timur, Kelurahan Karangpawitan, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang.
Acara yang dimulai pukul 17.00 hingga 19.00 WIB ini dihadiri jajaran pengurus dan pembina MAPI, tokoh masyarakat, perwakilan dunia usaha, serta unsur dari berbagai lembaga dan institusi.
Di antaranya Faisal dari PT Sanggabuana Group, Iman Taufiq Rahman selaku Cluster Collection Head PT Adira Finance Tbk, Raheysha selaku Kasi Izin Tinggal Imigrasi Non-TPI Kelas I Karawang, Mad Soleh selaku Kasubsi Keamanan Lapas Kelas II Karawang, Peltu Dasuki sebagai Penyidik Sub-Denpom III/3-1 Karawang, Asep Vivar selaku rekan Dewan Pembina MAPI, serta Ahmad Nugraha dan Hj. Nia Kurniasih dari Majelis Taklim Arraihan.
Dalam sambutannya, Dewan Pembina MAPI menegaskan bahwa bulan suci Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai proses pendidikan spiritual dan moral bagi manusia.
Ia menjelaskan bahwa puasa memiliki karakteristik khusus dibandingkan ibadah lainnya karena bersifat personal dan hanya diketahui oleh individu yang menjalankannya serta Allah SWT.
“Ibadah puasa sering disebut sebagai ibadah sirriyah atau ibadah yang bersifat rahasia. Tidak ada manusia yang benar-benar dapat memastikan apakah seseorang sedang berpuasa atau tidak. Hanya dirinya dan Allah SWT yang mengetahui,” ujarnya.
Menurutnya, dari ibadah puasa terdapat dua pelajaran penting yang dapat diambil, yakni Tarbiyatul Ilahiyah dan Tarbiyatul Irodah.
Tarbiyatul Ilahiyah merupakan pendidikan ketuhanan yang menanamkan kesadaran bahwa manusia senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT. Nilai tersebut menjadi fondasi kejujuran dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Ia menilai nilai kejujuran yang dilatih melalui ibadah puasa sangat relevan dengan semangat gerakan MAPI dalam memerangi pungutan liar dan penyalahgunaan kewenangan.
“Ketika seseorang mampu menjaga kejujuran di hadapan Allah dalam kondisi tidak diawasi manusia, maka nilai itu akan terbawa dalam kehidupan sosialnya,” katanya.
Sementara itu, Tarbiyatul Irodah dimaknai sebagai pendidikan kehendak atau pengendalian diri. Manusia pada dasarnya memiliki banyak keinginan, namun jika tidak dikendalikan oleh nilai moral dan keimanan, maka potensi penyimpangan dapat muncul.
Ia mencontohkan berbagai persoalan sosial seperti korupsi dan pungutan liar yang kerap berakar dari keserakahan manusia.
“Korupsi dan pungli sering terjadi bukan semata karena sistem yang lemah, tetapi karena kehendak manusia yang tidak mampu dikendalikan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Regional MAPI Jawa Barat, H. Abun Yaminsyam, S.E., menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga ruang refleksi moral bagi seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, pemberantasan pungutan liar tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum, melainkan harus dibangun melalui kesadaran moral dan integritas individu.
“Ramadhan mengajarkan kita tentang kejujuran, pengendalian diri, dan tanggung jawab kepada Tuhan. Nilai-nilai ini menjadi fondasi gerakan MAPI,” ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi kehadiran berbagai unsur dari dunia usaha, lembaga negara, tokoh masyarakat, dan elemen keagamaan yang menunjukkan dukungan lintas sektor terhadap upaya membangun budaya integritas.
Memasuki waktu berbuka puasa, para tamu undangan bersama-sama menikmati hidangan berbuka dalam suasana kebersamaan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan shalat Maghrib berjamaah di Majelis Taklim Arraihan.
Setelah shalat berjamaah, rangkaian acara dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada anak-anak yatim piatu yang berada di bawah asuhan Majelis Taklim Arraihan.
Santunan tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian sosial MAPI bersama para tamu undangan kepada anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.
Senyum bahagia anak-anak yatim yang menerima santunan menambah suasana haru sekaligus menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang kepedulian terhadap sesama.
Acara kemudian ditutup dengan makan bersama dan ramah tamah antara pengurus MAPI, tokoh masyarakat, tamu undangan, serta anak-anak yatim.
Melalui kegiatan ini, MAPI berharap nilai-nilai spiritual yang lahir dari ibadah Ramadhan dapat terus menjadi inspirasi dalam membangun masyarakat yang jujur, adil, dan berintegritas.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar nilai kejujuran, pengendalian diri, kepedulian sosial, dan integritas dapat terus tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat.

