Forensik Polda Jabar Ambil Sampel Jenazah Balita dalam Proses Ekshumasi di Cibuaya

KARAWANG – Satuan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Karawang bersama tim Kedokteran Forensik Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bidokkes) Polda Jawa Barat melaksanakan ekshumasi atau pembongkaran makam seorang balita di Dusun Cikuda 1, RT 01/RW 01, Desa Sukasari, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Sabtu (9/5/2026).

Ekshumasi yang dimulai sekitar pukul 11.00 WIB itu dilakukan sebagai bagian dari proses penyidikan guna kepentingan otopsi terhadap balita bernama Aldo Tri Pratama yang diduga menjadi korban kekerasan.

Kasat PPA Polres Karawang, AKP Herwit, mengatakan kegiatan tersebut merupakan rangkaian proses penyidikan setelah adanya laporan dari keluarga korban terkait dugaan kejanggalan atas kematian balita tersebut.

“Upaya atau kegiatan ekshumasi ini merupakan bagian dari rangkaian proses penyidikan. Hari ini kami bersama Kedokteran Forensik dari Bidokkes Polda Jawa Barat melaksanakan ekshumasi atau gali kubur untuk keperluan otopsi terhadap anak korban,” ujar AKP Herwit.

Baca Juga  Binataruna Poponcol Bersatu Gaungkan Solidaritas di Hari Buruh 2026

Ia menjelaskan, korban sebelumnya telah dimakamkan oleh pihak keluarga. Namun dua hari setelah pemakaman, kedua orang tua korban melaporkan dugaan kejanggalan kepada kepolisian sehingga dilakukan proses penyelidikan lebih lanjut.

Dalam proses penyidikan, polisi telah memeriksa sejumlah saksi dari pihak keluarga maupun warga di sekitar lokasi yang diduga berkaitan dengan perkara tersebut, termasuk area bengkel milik pacar ibu korban dan kontrakan tempat ibu korban tinggal.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis awal dari RS Hastien dan Klinik Az-Zahra, ditemukan sejumlah luka pada tubuh korban, di antaranya di bagian wajah dan dada. Selain itu terdapat luka lebam di beberapa bagian tubuh serta dugaan bekas gigitan.

Dokter Forensik Bidokkes Polda Jawa Barat, dr. Nurul Aida Fathya, Sp.FM, menjelaskan bahwa kondisi jenazah saat proses ekshumasi sudah mengalami pembusukan lanjut karena telah dimakamkan selama kurang lebih tiga minggu.

“Kita sudah lakukan ekshumasi atau gali kubur. Kondisi kuburannya saat digali bagian atasnya kering, tetapi ketika lebih dalam memang banyak air yang keluar. Jadi kondisi jenazah memang basah dan itu mempengaruhi proses pembusukan,” ujarnya.

Baca Juga  GOKAR Ramaikan GCR Market Day, Warga Download Aplikasi dan Dapat Hadiah Saldo

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim forensik dalam mengungkap dugaan tindak pidana yang menyebabkan kematian korban.

“Karena sudah sekitar tiga minggu dimakamkan, tentu sudah terjadi pembusukan lanjut. Hal itu memberikan tantangan bagi kami untuk menemukan dugaan adanya tindak pidana,” katanya.

Ia menambahkan, tim forensik telah mengambil sejumlah sampel dari tubuh korban untuk dilakukan pemeriksaan histopatologi anatomi di Bandung serta pemeriksaan toksikologi di laboratorium Bogor.

“Tadi kami sudah melakukan pemeriksaan dan mengambil beberapa sampel dari tubuh almarhum untuk pemeriksaan histopatologi anatomi di Bandung. Ada juga beberapa jaringan yang akan dikirim ke laboratorium toksikologi di Bogor,” jelasnya.

Terkait hasil pemeriksaan, dr. Nurul mengatakan proses analisis diperkirakan memerlukan waktu lebih lama karena kondisi jenazah yang telah membusuk.

Baca Juga  Hardiknas 2026, Disdikbud Karawang Dorong Kolaborasi Wujudkan Pendidikan Merata

“Kalau kondisi tidak membusuk biasanya proses histopatologi sekitar dua minggu. Tetapi karena kondisi sudah membusuk, jaringan harus direndam formalin lebih lama supaya tidak rusak,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bintang Abipraya Indonesia, Hana Yulianti, menyatakan pihaknya akan terus mendampingi keluarga korban hingga mendapatkan keadilan.

“Pendampingan hukum ini akan terus kami lakukan sampai klien kami mendapatkan keadilan seadil-adilnya,” tegas Hana.

Hal senada disampaikan Ahmad Mustafa, Jamaah Cibuaya, yang berharap proses otopsi dapat mengungkap fakta sebenarnya terkait kematian balita tersebut.

“Mudah-mudahan dengan kegiatan otopsi hari ini kejadian ini bisa terungkap, apakah betul dibunuh atau tidak. Kalau memang dibunuh, siapa pelakunya,” ujarnya.

Hingga saat ini, pihak kepolisian belum menetapkan tersangka dan masih menunggu hasil resmi pemeriksaan forensik untuk melanjutkan proses penyidikan.

Red/IL

TOP NEWS