Karawang |SANGGABUANANEWS.COM| Sebanyak 20 finalis Duta Pelajar Karang Taruna Kabupaten Karawang mengikuti rangkaian pembekalan intensif yang digelar di Aula BKPSDM Karawang pada Sabtu (06/12/2025). Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari perguruan tinggi, dinas pemerintah, hingga instansi kebudayaan, sebagai bagian dari program peningkatan kapasitas generasi muda Karang Taruna Kabupaten Karawang.
Pembekalan ini dirancang untuk memperkuat tiga aspek penting yang harus dimiliki para finalis Duta Pelajar 2025, yaitu kemampuan berbicara di depan umum, pemahaman mengenai isu perlindungan anak serta kekerasan, dan pengetahuan tentang cinta tanah air serta pelestarian budaya Indonesia.
—
Dr. Eka Yusup Bekali Finalis dengan Teknik Public Speaking
Pada sesi pertama, Dr. Eka Yusup, M.I.Kom, Dosen Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), menyampaikan materi mengenai pentingnya public speaking bagi generasi muda. Ia menekankan bahwa kemampuan komunikasi tidak hanya soal berbicara, tetapi juga tentang menyampaikan pesan yang tepat dan memengaruhi audiens.
“Public speaking bukan sekadar berbicara di depan umum, tetapi bagaimana menyampaikan pesan secara efektif dan persuasif,” terang Dr. Eka.
Dalam sesi tersebut, para finalis mendapatkan pemahaman mendalam mengenai teknik vokal, penggunaan intonasi, penguasaan panggung, hingga cara menjaga kontak mata dengan audiens. Dr. Eka juga memberikan simulasi singkat untuk menguji spontanitas dan kepercayaan diri peserta.
Antusiasme finalis terlihat ketika sesi tanya jawab berlangsung. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari cara mengatasi gugup, strategi membuka presentasi yang menarik, hingga bagaimana menyampaikan pesan secara meyakinkan di depan publik.
Salah satu finalis bernama Tia mengaku memperoleh wawasan baru dan merasa jauh lebih percaya diri setelah mengikuti pembekalan tersebut.
“Saya merasa lebih percaya diri dan siap untuk berbicara di depan umum,” ujarnya.
—
DP3A Karawang Angkat Isu Bullying, Intoleransi, Kekerasan Seksual, dan Kesehatan Mental
Sesi berikutnya menghadirkan materi dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Karawang yang disampaikan oleh Lilis Kulsum, S.H., M.M, Kabid Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (PPKPA).
Lilis menyoroti meningkatnya kasus kekerasan pada anak dan pentingnya peran generasi muda sebagai agen edukasi. Ia menjelaskan empat isu utama yang harus dipahami finalis, yaitu:
1. Kekerasan fisik – tindakan yang menyebabkan luka atau cedera tubuh.
2. Kekerasan emosional – bentuk kekerasan yang memicu stres, trauma, atau tekanan psikologis.
3. Kekerasan seksual – tindakan seksual tanpa persetujuan yang kerap menyerang anak dan remaja.
4. Bullying – perilaku agresif berulang yang tidak seimbang antara pelaku dan korban.
“Kami berharap para finalis dapat memahami pentingnya pencegahan dan penanganan kasus bullying, intoleransi, kekerasan seksual, serta masalah kesehatan mental. Mereka harus menjadi role model dan agen perubahan,” tegas Lilis.
Para finalis juga diajak berdiskusi mengenai cara memberikan dukungan kepada korban, langkah pelaporan kasus kekerasan, dan strategi menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta bebas intimidasi.
Tia, salah satu finalis, menyebut materi tersebut membuka wawasan penting mengenai penyebab dan dampak kekerasan pada remaja.
“Saya jadi lebih paham bagaimana mencegah dan menangani bullying maupun kekerasan di lingkungan saya,” ujarnya.
—
Perkuat Jiwa Nasionalisme dan Pelestarian Budaya
Pada sesi terakhir, Waya Karmila, S.Pd., M.M, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karawang, memberikan materi mengenai pentingnya cinta tanah air dan pelestarian budaya Indonesia bagi generasi muda.
Menurut Waya, cinta tanah air bukan hanya slogan, tetapi tindakan nyata yang bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
Di antaranya:
Menggunakan produk dalam negeri Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan Mematuhi hukum dan peraturan Berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan gotong royong Melestarikan budaya lokal melalui promosi kreatif
“Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai cinta tanah air dan budaya Indonesia, kita dapat menjadi generasi yang tangguh dan berkarakter,” ujar Waya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Karawang tengah mengajukan sejumlah lokasi untuk ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten, antara lain:
Monumen Rawagede
Situs Megalitikum Bojongmanggu
SDN Pisang Sambo I (bangunan lama)
Makam Ki Bagus Jabin
Situs Candi Lanang
Situs Candi Wadon
Selain itu, Karawang memiliki deretan Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) seperti Tari Topeng Banjet, Goyang Karawang, Tari Gondang, Silat Godot, tradisi Turubuk, hingga kuliner khas seperti Pepes Walahar, Soto Tangkar, Bolu Kijing, dan Rengginang Ketan.
Para finalis aktif bertanya mengenai cara melestarikan budaya melalui media sosial, membuat konten kreatif, hingga strategi promosi budaya lokal untuk generasi muda.
—
Mencetak Generasi Muda yang Siap Menjadi Agen Perubahan
Ketua Panitia Karang Taruna Kabupaten Karawang menegaskan bahwa rangkaian pembekalan ini bukan sekadar agenda formal, melainkan upaya serius untuk membentuk karakter finalis Duta Pelajar yang visioner, kompeten, dan peduli terhadap isu sosial maupun budaya.
Melalui materi public speaking, edukasi anti-kekerasan, serta nilai cinta tanah air, para finalis diharapkan mampu menjadi representasi terbaik pelajar Karawang dan membawa perubahan positif di lingkungan mereka.
Program ini menjadi langkah nyata Karang Taruna Kabupaten Karawang dalam menyiapkan pemimpin masa depan yang berpengetahuan luas, berakhlak, dan berkarakter kuat.
Kegiatan pembekalan ini resmi ditutup dengan pesan agar para finalis terus mengembangkan diri dan mempraktikkan semua ilmu yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam tugas mereka sebagai Duta Pelajar Karang Taruna 2025.
(Red/IL)

