KARAWANG – Mediasi antara Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Jawa Barat dengan manajemen PT Pertiwi Lestari berlangsung panas dan sempat diwarnai ketegangan, setelah pembahasan dinilai melebar dari pokok tuntutan yang diajukan pemerintah desa.
Forum yang awalnya ditujukan untuk membahas tiga tuntutan utama dari pihak desa, justru berkembang ke isu lain, termasuk persoalan aset, jalan, hingga perjanjian kerja sama yang dinilai tidak relevan dengan agenda awal.
Perwakilan Transheksa, Sugiarto, dalam pernyataannya menyebut bahwa pihaknya pernah membeli aset milik KNIC dan menyinggung soal perbaikan jalan yang menurutnya telah diatur dalam perjanjian.
“Jalan itu sudah dibuka dan diizinkan oleh Pemda Bekasi. Dalam akta perjanjian juga disebutkan adanya perbaikan jalan yang rusak,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa persoalan tersebut didominasi oleh perjanjian antara PT Pertiwi Lestari dengan pihak Grha, serta menyinggung keterlibatan sejumlah pihak dalam proses perizinan dan penggunaan jalan.
Namun pernyataan tersebut langsung mendapat respons keras dari Ketua Umum APDESI Jawa Barat yang juga Kepala Desa Wanasari, Sukarya WK, SH. Ia menilai pembahasan mulai keluar dari konteks dan justru mengarah pada hal-hal yang tidak relevan dengan tuntutan desa.
“Jangan mengatur anggota agar bicaranya sama. Sekarang justru muncul permintaan Rp60 miliar, itu bukan perbaikan jalan, tapi penggantian jalan,” tegas Sukarya.
Ia juga mempertanyakan transparansi sejumlah proyek dan pembayaran yang pernah dilakukan, termasuk pembangunan jalan yang diklaim telah diselesaikan sejak tahun 2010.
“Saya yang membangun jalan itu. Kalau memang ada masalah, silakan tempuh jalur hukum. Tapi jangan sampai ini jadi ajang bisnis,” tambahnya.
Ketegangan semakin meningkat ketika Kepala Desa Wanajaya, Emin Syaepudin, memotong jalannya pembicaraan. Ia menegaskan bahwa mediasi harus tetap fokus pada substansi tuntutan yang telah disepakati.
“Hari ini kita aksi bukan karena diboncengi pihak manapun. Ini murni aspirasi kepala desa,” tegasnya.
Situasi sempat memanas hingga membuat jalannya mediasi terhenti sementara. Bahkan, dalam dinamika forum, disebutkan adanya peserta yang memilih walkout dan meninggalkan ruang mediasi.
Di tengah memanasnya suasana, publik mulai mempertanyakan berbagai hal yang berkembang dalam forum tersebut. Muncul dugaan adanya kepentingan tertentu yang melatarbelakangi reaksi keras dari sejumlah pihak, termasuk Kepala Desa Wanajaya.
Pertanyaan publik pun mengemuka, apakah ketegangan ini berkaitan dengan masuknya kawasan industri seperti Pertiwi Lestari, Artha Industrial Hills, hingga KNIC ke wilayah Wanajaya. Selain itu, muncul pula spekulasi apakah ada hal yang ditutupi sehingga memicu ketersinggungan hingga berujung aksi walkout dalam rapat mediasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi terkait dugaan tersebut. Mediasi masih berlangsung dengan upaya mencari titik temu antara kedua belah pihak, di tengah sorotan publik yang semakin tajam terhadap transparansi dan kepentingan di balik konflik ini.
Red/IL

